Welcome to Onetea's Blog




Wednesday, October 19, 2005
Kusapa Engkau Lewat Doa

Bulan Ramadhan dan Iedul Fitri adalah saat yang baik bagi kita umat Islam untuk menguatkan kembali tali silaturahim yang sempat longgar antara kita dengan orang tua kita, saudara-saudara juga teman-teman kita.

Terhadap teman, kadang kita terlalu cepat melupakan teman lama kita setelah kita mendapatkan teman baru. Kita tidak menyadari bahwa teman-teman yang sempat terlupakan itu pernah mewarnai hari-hari kita. Kita pernah menjalani hidup ini dengan penuh keceriaan bersama mereka. Bersama mereka juga kita pernah saling menitipkan diri. Apakah kita masih mengingat mereka? Teman-teman yang dulu dekat, yang mungkin keadaanya tidak seberuntung kita saat ini.

Kalau mudah untuk menghubunginya, kalau bisa menyapanya, sekedar menanyakan kabarnya, mengapa tidak kita lakukan saat kesempatan itu masih ada?? Mumpung masih ada waktu....


Telepon di Bulan Ramadhan Buat Kak Ipunk

Kak Pungki, atau biasa ku panggil Kak Ipunk, adalah teman dekat kakakku yang nomor 2. Mereka pernah satu kelas sewaktu di SMA. Karena tempat kuliah yang berbeda (kakakku kuliah di luar kota) sehingga kami sekeluarga tidak pernah melihat Kak Ipunk datang lagi ke rumah . Hingga suatu hari saat aku masuk kelas kursus bahasa Inggris di kelas basic 2 , (kalo saya mulainya dari kelas basic 1, itu pun setelah tiga kali ikut placement test karena ga lulus mulu :D ) aku kaget karena ternyata sekelas dengan Kak Ipunk, teman kakakku yang sempat menghilang. Waktu itu Kak Ipunk kuliahnya masih tingkat 2 dan aku kelas 2 SMA.

Asik juga sekelas sama Kak Ipunk, dia selalu memberi support supaya aku berani bicara manakala dikepalaku ada ide aneh atau sekedar menanyakan pertanyaan yang ga bermutu yang selalu saja ingin aku lontarkan kepada guru bahasa Inggris di kelas.

Mungkin karena orangnya baik hati dan tidak sombong, juga karena mukanya yang mirip nihon jin (orang jepang) jadi tidak mengherankan kalau dia banyak fansnya di kelas. Tapi Kak Ipunk ga pernah merasa kege-eran, malah dia tetap ramah terhadap para fansnya itu, sehingga tidak ada orang yang merasa segan untuk sekedar menyapa Kak Ipunk, karena sapaan mereka pasti akan dibalas dengan senang hati oleh Kak Ipunk. Tidak jarang juga malah Kak Ipunk duluan yang menyapa para penggemarnya J. Aku masih ingat ada mbak-mbak yang selalu setia menunggu Kak Ipunk untuk pulang bareng. Sebelumnya si mbak udah melakukan pedekate kepada diriku dulu sebagai adiknya. Asik banget ya jadi adeknya Kak Ipunk.

Aku ingat waktu itu bulan Ramadhan, untuk pertama kalinya aku menelepon Kak Ipunk karena urusan kursus. Saat itu di rumah belum ada telefon, jadi aku harus menelepon di telepon umum koin agak jauh dari rumah. Lumayan lama juga kami bicara di telefon, karena kami bicara memakai Sundanese English yang terpatah-patah :D, hingga akhirnya saya mendengar suara azan.
“Eh Kak, udah azan yah?” Tanyaku ketika aku menangkap suara azan dari TV-nya Kak Ipunk.
”Iya, Mia puasa ga?” Tanyanya dengan semangat 45.
”Puasa dooong, “jawabku
”Cepeeeeeeeeeeet bukaaa!!!” dari suaranya tersirat sifat kekakak-kakak-annya.

Setelah habis masa 3 bulan kursus, aku memutuskan untuk berhenti, sedangkan Kak Ipunk kalo ga salah masih meneruskan kursusnya. Komunikasi pun putus kembali. Hingga suatu malam beberapa tahun yang lalu, ketika itu aku tidur malam lebih cepat,(maklum, biasanya insomnia) Kakak ke-2ku mengetok-ngetok pintu kamarku sambil berkali-kali berteriak: ”MIA,MIA , PUNGKI !!!!!”

Setengah konek, otakku meminta ijin beberapa saat untuk mencerna perintah. Saat pintu ku buka, kulihat mata kakak ke-2 sudah berhamburan air mata. Sambil menangis dia berkata: ”Mi..., Pungki udah meninggal...”

Terbelalak mataku mendengar ucapan kakakku itu. Tidak menyangka Kak Ipunk secepat itu dipanggil Allah. Kulihat kakakku merasa terpukul dan menyesal, karena sekian lama dia tidak bertemu dengan Kak Pungki, sekian lama dia tidak get in touch dengannya. Kalau ada di rumah dia merasa tidak menyempatkan diri bertemu dengannya atau mininal menelefonnya sekedar menanyakan kabarnya. Malam itu pada saat kakak ingin bertemu Kak Ipunk, dia meneleponnya, tapi anggota keluarga Kak Ipunk yang mengangkat telefon menjawab: ” Pungkinya udah ga ada....” Ternyata kesempatan bertemu itu sudah tidak ada lagi....

Aku ga nyangka, ternyata telepon di bulan Ramadhan dulu itu adalah teleponku yang pertama dan yang terakhir buat Kak Pungki.

***

Di Bulan Ramadhan Ku Antar Engkau, My Dear Friend.

Pagi itu aku memang bermaksud untuk menengok Dini, setelah sekian lama Dini sakit, aku sama sekali belum pernah menengoknya waktu itu. Ternyata aku bukan teman yang baik ya Din...

Tanpa meneleponnya terlebih dahulu, aku memutuskan untuk mengunjungi dulu temanku yang lain yang juga tetangganya Dini, dengan pertimbangan agar aku punya waktu yang lebih lama di rumah Dini. (maklum si ratu chatting, berkunjung sejam buat ngobrol mah udah pasti ga bakalan cukup!)

Rumah Dini terletak di blok depan, menghadap ke jalan utama yang menuju perumahan itu dan terletak pas dipertigaan jalan, sehingga aku pasti harus melalui rumahnya manakala aku mengunjungi temanku yang juga tetangga Dini.

Setelah turun dari angkot, aku berjalan kaki menuju komplek perumahan di mana Dini tinggal. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita di depan rumah Dini melambai-lambaikan tangannya kearahku untuk datang mendekat. Sebelumnya aku menegok ke belakangku untuk memastikan bahwa lambaian itu memang buatku. Karena mataku yang miopi (rabun jauh) saat itu, maka aku benar-benar merasa tidak mengenali siapa wanita di depan rumah Dini itu, hingga akhirnya aku tiba tepat di depan rumahnya, ternyata bukan karena miopiku aku tidak mengenalnya tapi karena.... fisiknya sudah banyak berubah....
***

Dini adalah teman dekatku sewaktu aku masih SMA kelas 1. Anaknya cantik, manis, imut-imut, ceria, pandai bergaul juga pintar. Giginya yang berwarna keruh akibat pengaruh Tetrasiklin (nama antibiotik) sewaktu dia masih bayi ternyata malah menambah manis senyum ”cheese”nya yang merekah.

Tentang kepintarannya, dia sangat menguasai pelajaran eksakta juga bahasa Inggris. Dulu seperti biasa, kami sekelas terkena remedial tes matematika karena guru matematika kami senang sekali memberikan soal-soal madas (matematika dasar) UMPTN saat ulangan. Di kelas biasanya ada tiga murid yang tidak pernah di her, satu di antaranya adalah Dini. Waktu kursus bahasa Inggris LIA baru membuka cabangnya di kotaku, sehingga test penerimaan murid baru nya masih ketat, dan peminatnya membludak, Dini dan hampir semua teman di kelasku lulus tes, malah Dini langsung masuk level yang tinggi, sedangkan aku seorang diri yang tidak lulus, walau untuk sekedar masuk kelas basic 1.

Aku masih ingat, sebelum test penempatan yang kedua kalinya aku ikuti, Dini yang memang ingin aku bisa les di tempat yang sama dengannya pernah mewanti-wantiku agar aku tidak mengisi semua pertanyaan, karena test itu memakai sistem kurang jika jawaban salah. Ah Din, sayang sekali, aku baru ingat peringatanmu itu menjelang detik-detik waktu ujian berakhir, sedangkan aku sudah menghitamkan semua bulatan di lembar jawabanku. Din, aku dulu pernah berfikir heran, kenapa otakmu yang memang encer banget itu ga bisa nular ya kepada diriku...???:D Dan kenapa kamu masih juga mau temanan sama diriku Din?? Yang hanya untuk les bahasa Inggris aja, buatku susahnya minta ampun, gara-gara ga lulus placement test mulu.
***

Pagi itu aku ternyata masih mengenal senyum manisnya, walaupun secara keseluruhan memang fisik Dini berubah drastis. Aktifitas sejenis bakteria telah merusak organ dalam dan luarnya. Aku yang sangat expressif berusaha untuk menyembunyikan rasa kagetku atas perubahan yang terjadi pada Dini. Dini yang memang tidak pernah lepas dari senyum ketika bertemu orang itu segera menyambutku sambil berkata dengan suara yang lirih:
”Mi tau ga, tadi waktu Dini duduk berjemur, dalam hati Dini ngomong, Ya Allah coba ada temen Dini yang datang ya sekarang....., Dini pengen banget ngobrol, eeeh Dini lihat Mia lagi jalan, langsung Dini lambaiin (tangannya). ”  Aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya, ternyata akulah yang diutus Allah untuk mendengarkan segala perasaan hatinya.

Setelah tiba di ruang tamu, tanpa kuminta Dini mulai menceritakan semua tentang penyakitnya; awal mula datangnya penyakit serta kejadian-kejadian ketika dia masuk-keluar RS juga tentang kesedihannya melihat orang-orang yang dia cintai harus menanggung kepedihan dan kesedihan yang mendalam melihat kondisinya. Dia tahu keluarganya selalu menyembunyikan perasaan sedih mereka di depannya. Dia bercerita kadang dia suka menahan sakit yang dia alami hanya karena dia tidak ingin membuat keluarganya, terutama mamanya, menangis. Dini menceritakan semua itu dengan air muka yang tenang, sedangkan aku yang mendengar semua kisahnya malah merasa ngeri dan terharu, sampai-sampai aku ga bisa menahan beberapa butir air mata untuk tidak keluar di hadapan Dini.

Aku kagum melihat kesabaran, kepasrahan dan ketabahannya menghadapi cobaan Allah. Ternyata sesuatu yang aneh telah terjadi pada diriku saat itu. Biasanya kalau mengunjungi rumah teman, aku lah yang berperan sebagai pembicara, tapi saat itu di hadapan Dini aku berubah menjadi seorang pendengar yang baik dan berkali-kali mengucapkan kata ”Subhanallah Dini..”

Kata-kata ”Subhanallaah Dini” memang pantas aku lontarkan di depan Dini, karena saat itu aku melihat pembuktian akan hadist Rasul yang mengatakan bahwa orang sakit yang sabar maka doanya akan dikabulkan. Lihat saja salah satu contohnya, hanya harapan selintas saja dalam hati, Allah langsung mengabulkan harapan Dini pagi itu untuk ngobrol dengan seorang teman.”

Selang beberapa hari, aku memobilisasi teman-teman untuk datang menengok Dini. Ada banyak pelajaran yang kudapat ketika bertemu Dini waktu itu dan aku berharap teman-temanku bisa menangkap pelajaran itu. Tentunya tujuan yang utama agar Dini merasa terhibur dan semangatnya menatap masa depan tetap terpatri di hatinya.

Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiran teman-teman saat itu mengenai kondisi Dini. Dini menyadari hal itu, lalu dengan tersenyum sambil menatapku dia berkata: ”Nanti Mia aja ya yang cerita”. Aku mengangguk sambil berkata dalam hati:” Duh Din, suatu kehormatan yang besar buat ku bisa menjadi pendengar saat Dini membutuhkan teman.” Kelihatannya tempo hari itu Dini sudah puas bercerita,menumpahkan segala apa yang ada dalam hatinya kepadaku sehingga dia terlihat tampak lebih tenang. Berkali-kali aku tidak bisa membendung air mataku saat melihat dia.

Lalu tak lama kemudian, aku ditelepon temanku yang juga tetangga Dini bahwa Dini sudah meninggal....

Suatu malam di bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, Dini pergi menghadap-Nya. Lalu pagi harinya, aku mengantarkan Dini ke tempat pembaringannya yang terakhir.....

***


Last time, while laying down on my bed due to my illness, I was thinking of Kak Ipunk and Dini. Now I just can say something with both of u through my prayer, (Allaahummagfirlahumaa, warhamhumaa, wa’aafihimaa, wa’fuanhumaa…. ) as well as (I was thinking of) my friends that still exist on this planet :)

For all my friends, I don’t expect to be the most important person in ur lives, that’s too much to ask for. What would make me happy is that one day if u ever hear my name, u’ll smile and say “That’s my friend”.

Posted at 10:03 am by onetea
Make a comment  

Tuesday, August 30, 2005
Minimalist or Worse?

Beberapa bulan yang lalu kita disentakkan oleh kisah Pak Supriono yang harus menggendong sendiri jenazah anaknya, Khairunnisa (3 tahun), yang dibungkus kain sarung kumal yang akan ia kuburkan di daerah Bogor. Sebelumnya untuk menuju station KA Tebet, bapak yang bekerja sebagai pemulung ini saat itu mengangkut jenasah anaknya dengan menggunakan gerobaknya, karena ia hanya mengantongi uang enam ribu perak!

Ceritanya segera menyentakkan calon penumpang KA lain, yang pada akhirnya mereka membawa Pak Supriono ini ke RSCM untuk otopsi jenazah anaknya. Semua orang yang ada pada saat itu merasa telah menolong Pak Supriono dengan memberi uang 10 ribu, yang pada akhirnya uang yang terkumpul tetap saja tidak bisa meringankan beban hati Pak Supriono,karena pada akhirnya ia sendiri yang harus menggendong anaknya mencari tempat untuk menguburkan jenasah anaknya. Mungkin air matanya sudah lama mengering karena habis terkuras oleh ganasnya kehidupan.

Di hari yang lain beberapa bulan yang lalu, seorang kakek yang bernama Pak Buang yang benar-benar terbuang. Ia hidup sebatang kara. Jasadnya terbujur kaku di pasar Jatinegara Jaktim. Kakek yang pekerjaannya serabutan ini, sudah lama sakit. Orang-orang yang lewat melihat keadaanya dan mendengar batuknya yang parah,tapi mereka hanya memberinya sebuah lirikan. Beberapa orang mengaku mendengar rintihan minta tolong, namun mereka menganggap itu hal biasa sehingga tidak satu pun menolongnya.

Kompas dalam tulisan tentang Pak Supriono melihat fenomena di atas sebagai cermin sikap minimalis warga Jakarta, yaitu sebuah sikap yang merasa sudah berbuat sesuatu lalu setelah itu berlepas diri.

Dalam Islam berbuat baik yang berkualitas disebut dengan Ihsan. Ihsan dalam sebuah hadist diartikan sebagai perbuatan ibadah yang ketika mengerjakannya seolah-olah kita melihat Allah, jika kita tidak mampu menghadirkan bayangan bahwa kita sedang melihat Allah maka yakini bahwa Allah sedang melihat kita. Mungkin dalam terminologi modern istilah Ihsan bisa kita artikan sebagai perbuatan baik yang profesional atau yang berkualitas.

Bayangkan jika pada saat Pak Supriono sedang menggendong anaknya itu kita berada di sana. Bayangkan kita melihat kakek sebatang kara yang sedang sekarat itu. Apakah kita akan menolong mereka secara ihsan? Atau kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersikap minimalis juga?

Suatu sore years ago di trotoar jalan, seorang wanita yang id-nya berinisial “o” melintas, dan melihat orang bergerombol. Si wanita itupun berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang orang-orang itu lihat. Ternyata mereka sedang melihat seorang anak jalanan yang berpenampilan kumuh sedang mengalami kejang, dari mulutnya keluar busa. Sepertinya anak itu menderita tetanus,karena terlihat luka menganga di kakinya. Mungkin toksin yang dikeluarkan bakteri anaerob pada lukanya sudah sampai otak,makanya anak itu mengalami epilepsy/ayan.

Semua orang yang melihat kejadian itu, termasuk wanita tadi, hanya melihat dan malah hanya menonton. Saat itu terlihat seorang wanita yang wajahnya (terutama matanya) seperti Chang Man I terlihat sedang berusaha menolong. Hanya wanita itu saja saat itu yang terlihat berusaha menolong, padahal wanita yang id-nya berinisial “o” tadi sebenarnya bisa juga kan nolong? (walaupun saat itu uang di kantong cuman tinggal sepuluh rebu misalnya).

Aksinya sebenarnya bisa seperti mengajak kerumunan untuk membawa anak tadi ke kantor polisi terdekat, atau kalo pada ga mau nolong ya minimal berdua sama jie jie tadi berusaha menolong secara optimal,seperti membawa anak itu ke PMI trus minjem duit ke temen-temen buat bayar uang jaminan rawat inap, trus berusaha mencari dana misalnya ke dompet du’afa Republika atau ke PKPU ( bisa ga ya minta dana untuk hal sperti ini ke sana? dan prosedurnya susah ga sih?, just in case ajah) Entah alasan apa yang membuatnya tidak tergerak menolong bocah itu. Apakah karena malu takut disebut sok jadi pahlawan,atau karena ga punya duit ya?

Ternyata memang tidak semua orang mempunyai kekuatan dan kelapangan jiwa untuk menolong orang lain ya? Jangankan menolong orang secara berkualitas, secara minimal aja ternyata tidak tergerak. Seperti wanita “o” tadi di atas, ternyata dia… ah… :(

Alangkah berbahagianya orang yang bisa menajdi "sebaik-baiknya kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain"

Posted at 07:47 am by onetea
Comment (1)  

Wednesday, May 25, 2005
Islamic Scholar

once long time ago I read republika online (RoL) that AA Gym,the modest islamic scholar would nominate himself to be a future indonesian president. Actually i don't know whether the news was right or wrong (because i hadn't confirmed this to AA hehehhe ), but one thing that made me wondered about this is a question about "can an islamic scholar (ulama) be a president or take part in practical politics???

To answer my question i try to recall some former islamic figures in the past, and it turned out there are some figures.

I'm really amazed with MOHAMMAD NATSIR (1908-1993). He was not only indonesian prominent ulama but also international figure with lots of abilities not only earthly but also heavenly, he had lots of professions as well. I used to read about him on republika supplement 6 years ago but unfortunately i don't know where it is now :(( shimbun ga nakushite shimaimashita....

Actually when he was still alive i've been alive, i was in my 2nd year in my university,but at that time i wasn't keen on knowing great figure like him.

I've noted his taking part in politics,
he used to be the chairman of MASYUMI 1949-1958,
he used to be Indonesia's prime minister: NATSIR MINISTRY, although just one year from 1950-1951, he could be the PM because he could unite indonesia which the time had problem in separation.
he founded DDII (dewan dakwah islam indonesia) in 1967.

He always addressed his speech in many international forums. and u know that he was japan's PM's best friend ( i forget the name of the PM). THe PM always consulted many problems to him.

Although he was busy, but he still had much time to receive his guests regardless who the guess was. Once a poor came with his trivial problem, his children were amazed with his attention to hear those trivial problems then he warned his children that " something trivial for us wasn't always the same for other people, for some maybe it was something hard" HOw wiseful he was.

Actually it's not just Muhammad Natsir who can be a reference about this, there are still many other ulamas that used to be active in practical politics. I can mention HAMKA, he used to be active in MASYUMI too. IBNU SINA, used to be a prime minister twice besides he was a doctor, and there were still many other professions that he held at the time of his life.

SO...from the above e.g (exampli gracia) figures, can u draw any conclusion?

QUOTATION:
" HIndarkan kesalahan besar, yaitu kesalahan tidak berbuat apa2. Mulailah dgn apa yg ada karena yg ada itu sudah lebih dari cukup untuk memulai suatu pekerjaan." ( moh. Natsir)

Posted at 08:14 am by onetea
Make a comment  

Friday, May 20, 2005
Ketemu orang KL di Damri (tamat)

Karena penumpang padat, akhirnya aku kebagian duduk at the back row. Bangku yang paling belakang,yang buat 5 orang. Aku duduk ditengah. Di samping kananku duduk seorang bapak muda yang berpakaian ala santri pesantren tradisional Indonesia; pake kopeah, baju koko dan berjenggot, di sampingnya duduk wanita yang sepertinya istrinya. Aku ga negor kanan-kiriku, jaim ah hehhehe. Tapi sekali2 suka sih ngelirik kanan-kiri (hihi norak yah). Nah pas ngelirik ke kanan, ke arah bapak2 yang bergaya pesantrenan itu, aku kaget,dia lagi maenin stylus di atas layar PDA-nya!!! Weeeiiss… ga nyangka loh dengan penampilannya itu dia bawa gadge yang aku aja sampe sekarang ga punya hehhehe.

Trus, aku denger sayup2 mereka kok ngomongnya kayak yang pake bahasa cina yah?? Bukan pake bahasa Indonesia (hihih ga sopan yah, nguping :D). Wah keren euy, bahasa cinanya lancar, pikirku. Aku liat istrinya mangku tas jinjing bawaan toko, tertulis kata “Singapore.” Waah aku langsung berpikir, mereka pasti bener pake bahasa cina, abis lama di Sg kali yaa,kan di sana banyak orang cinanya. Duh asik banget ya bisa nguasain bahasa asing. Lantas aku berdoa supaya diberi kesempatan menimba ilmu kayak orang-orang.

Aku takut maagku kambuh, maka kukeluarin biskuat yang selalu menemani tasku ke mana saja aku pergi. Aku menawarkan biskuitku ke bapak yang ada di sebelah kiri-kanan. Dan ternyata itu awal yang enak ngobrol sama bapak2 yang berpakaian pesantren style ini (nescape kali, awal ngobrol enak :D)

Ternyata beliau ini orang Kuala Lumpur. Udah beberapa kali ke Bogor, karena diundang untuk jadi ga tau pembicara apa trainer tuh. Tapi aku nebaknya sih beliau diundang ceramah. Pantesan bahasa melayunya udah agak keindonesia2an, jadi saya gampang ngobrolna. Jadi bisa ngerti gitu. Buat istrinya ini kali pertama datang ke Indonesia.

Karena suara mesin begitu keras terdengar,maka aku bener2 harus konsenterasi dengerin ucapan dia. Mudah2an aja apa yang dia maksud nyambung dengan yang kutangkap.

Aku nanya, tentang HaPeA,produsen herba dari malaysia. Apakah HPA itu ngetob apa ngga di my. Dia mikir bentar lalu ngomong, “Ah! eic pi ei. Yah benar di malayse itu terkenal.” Begitu denger bapak ini spelling 3 huruf itu dengan spelling yang FASYIH, aku langsung grogi, takut diajak ngomong pake bahasa inggris heheh, maklumlah inggrisku kan masih o’on :D.

Di antara deru suara mesin, aku tetep kept ngobrol sama beliau. Aku nanyain juga tentang kabar Pak Anwar. Dia nanya, “Minat dengan Pak Anwar?” kujawab iyah. Aku pernah baca tulisan cendekiawan Indonesia yang menulis tentang pak Anwar, jadi aja tau tentang Pak Anwar walaupun hanya sikit.

Menurut bapak ini, Pak Anwar itu sudah habis. Dia (pak Anwr) sudah tidak mau lagi muncul di arena politik. Aku mengungkapkan keprihatinanku karena pak Anwar tidak dipotensialkan segala potensinya *yang kutau, Dia dulu adalah menteri bijak bestari. Menteri yang bereputasi international. Selama menjadi menteri berturut-turut ( menteri sukan (olahraga), prtanian, pendidikan, keuangan dan terakhir deputy PM) ia kebal suap, sering diberi bingkisan mahal yang harganya 100 ribu dollar US ia tolak dengan santun.
Ia bisa tidur nyenyak kalo lawan politiknya mengeritik dan menyerangnya, tapi dia ga bisa tidur kalo rakyat kecil mengeritiknya. Belum lagi akhlaknya yang subhanallah,memaapkan orang yang sudah menjolominya. Ga semua orang bisa kayak Pak Anwar kan?? Malah beliau ini termasuk makhluk langka sekarang*

yang saya tangkap ni yah) Menurut bapak tetangga dudukku di damri ini, pak Anwar tuh kurang kuat imannya. Menurutnya lagi, kalo orang yang kuat pasti akan terus memperjuangkan kebenaran. Aku nanya, “Kalo begitu, kenapa Pak Anwar ga disupport?” Bapak ini menjawab, "Susah kalo orang berjuangnya tidak berjamaah. Pak Anwar berjuang hanya lewat pemikirannya saja."

Ternyata Damri sudah mau nyampe di terminalnya. Aku langsung menyampaikan kata2 perpisahan. Mereka dijemput menuju ke daerah elit sentul. Katanya jika ada waktu mereka akan menghubungiku untuk minta diajak jalan2. Terus terang, kalo ada orang asing ke Indonesia,aku selalu pengen banget ngajak jalan2. Maklumlah aku selalu ingin jadi tuan rumah yang baik bagi foreigners dan kebetulan jalan2 termasuk salah satu hobiku (selain hobi ngisengin temen heheheh).
************

*ceritanya ngomong sendiri nih

Mengenai Pak Anwar Pak, bagiku ga masalah orang mo berjuang lewat jama’ah atau lewat pemikiran,atau malah berjuang sendirian juga oke2 ajah. Namanya berjuang, ga ada yang salah toh? Sama2 berjuang kan ya judulnya? Asal berjuangnya yang bener aja, bukan berjuang untuk nyopet :D. Menurut saya lagi nih, kita harus menghargai perjuangan orang lain, bagaimanapun kapasitas perjuangannya. sesuai dengan potensi masing-masinglaaah.

Kalo memang karena tidak keberjamaahannya itu pak Anwar (dianggap) jadi lemah semangatnya, mbok yaa tolong didorong gitu loh. Karena unutk membela kebenaran, kita tidak harus mengandalkan kekuatan dari inner cycle suatu kelompok saja. Kalo udah sama idenya mah atuh ya kerja sama wae…. Cari persamaannya, bukan dibesar2kan perbedaannya kan yah?

Tapi kalo menurutku sih,Pak Anwar sudah berusaha untuk tampil kembali, hanya sayang saja sistem di Malayse tidak memberikan peluang buat pak anwar untuk tampil lagi. Sistem itu ada karena manusia yang membuatnya tidak menginginkan pak anwar bangkit kembali….pak anwar bener2 di TKO!

trus masalah imannya pak anwar kurang pak, (mudah2an aja saya salah dengar bapak ngomong gitu yah),kalo memang dia kurang kuat, kenapa dia sewaktu jadi menteri keuangan ga korupsi aja? dia kan yang pegang kuasa atas keuangan negara saat itu. orang sekaliber MWK aja ga tahan melototin duit trilyunan...

Posted at 10:30 am by onetea
Make a comment  

"Ternate itu Indah looh" (cerita part 2)

Sambil nunggu Damri yang saat itu lama banget nongolnya, adek sepupuku yang masih kuliah semester …( berapa ya? :D ) cerita tentang Ternate. Dia bilang ternyata di Indonesia masih ada tempat yang begitu indah…..

Seharusnya dia pulang bulan Agustus, tapi berhubung ada tanda-tanda kerusuhan bakal terjadi (kayaknya ada hubungannya dengan pilkada deh) ,maka baru juga sebulan setengah dia di sana, udah keburu ngacir duluan... heheheh

Heni: “ Duh Teteh…ternyata Ternate itu indah sekaleeeee. .itu pulaunya,duuh ga bisa dilukiskan dengan kata-kata.”

Dakoe: “ Seberapa indah sih?? Dipoto teu?”

Heni: “Nah itu, Heni teu bawa kamera. Buru-buru sih waktu berangkatna. Lautnya biru bening. Heni bisa ngeliat terumbu karang dari atas speedboat. Ada lumba-lumbanya lagi berenang di samping speedboat lagih, duuh pokona indah deh!

Dakoe: “ Wah asik amat Hen. Anggap aja dikaw udah pernah ke luar negeri nya' hehhe. Ke makammnya Sultan Hairun ma Sultan Baabulah teu?" (sultan ternate yang mengusir portugis dari ternate)

Heni: “ Udah atuh. Di sana mah kan ke mana-mana deukeut. Teu macet sih.”

Dakoe: “Angkutan di sana kumaha? Pasti banyak ojek nya'?”

Heni: “Iya, di sana mah angkotna jarang. Jadi banyakan ojek. Pemda ge bingungeun, soalna mo dibanyakin angkot teh ditentang sama tukang ojeg. Eh Teh,tukang ojeg di sana manis-manis sekaliiiii looh heheheheh.”

Dakoe:” HAHAHAH dassar!!!! Berarti masyarakat di ditu ge teu kaberatannya kamana-mana naek ojeg. Barenghar (pada kaya) atuh.”

Heni: “Emang. Ternyata di sana orang-orangnya banyak yang udah S2.kebanyakan jadi pegawai negeri.”

Dakoe:” Banyak S2 tapi kok percepatan pembangunan di sana sama wae ma wilayah timur Indonesia nu sejen (yang lain) Hen? LAMBAT!”

Heni: “ Nah itu dia, mereka juga ga tau jawabannya Teh.”

Dakoe:” Yah itu karena kita dulu kelamaan pake sistem sentralistik sih,jadi masyarakat ga berkembang pemikiranna. Selalu nunggu petunjuk dari pusat mulu. Coba deh belajar ka bupati Jembrana Bali. Padahal dia dokter gigi, tapi bisa loh ngatur daerahna nu termasuk daerah kering duit sampe pendidikan dan kesehatan di sana gratis.”

Eh sinarieun ga seperti biasanya,damri ke bogor lama be’eng. Heni kelaperan, akhirna dia lari nyari makanan dulu. Alhasil, akhirnya daku nyampe rumah jam 8 pm kurang. Lumayanlah masih bisa nongton film si Yoko hehheheh.

Posted at 09:11 am by onetea
Make a comment  

Maskapai dan Bandara Indonesia (cerita part1)

Waktu hari rabu daku dibuat bete nungguin adik sepupu yang pulang dari praktek lapangan di Ternate. Dia minta aku ngejemput dia. Yah, padahal mah gampang banget deh jalan pulang menuju Bogor dari Bandara. Tinggal naek Damri ajah. Tapi mungkin dia belom berani, jadi akhirnya daku berangkat juga ke bandara. Ibuna sepupu pengen ikut..jadilah kita berangkat bedua naek damri.

Sepupuku bilang kalo pesawat bakal chao dari ternate jam 9 WIT, perjalanan 2 jam, berarti nyampe jam 11 WIT. Berhubung jakarta itu WIB, jadi nyampenya jam 9. Nah, saya jam 9 lewat udah nyampe sana. Trus ada sms dari dia, kalo dia belum juga berangkat karena ada delayed. GLEK! Masih ada di Ternate????

Kira-kira jam 10 lewat dia sms lagi, kalo dia lagi ada di Manado. Kira-kira nyampe jam 12-an katanya. Dia ngeplis-ngeplis supaya saya kept staying there. Ditunggu…… hingga jam menunjukkan jam 12 lewat. Waktu berlalu begitu lambat kemaren. Jam 1 lewat aku stress karena hari itu ada jadwal ngajar les. Akhiirnya ga ngajar deh, bukannya tidak bertanggung jawab,tapi ini diluar perhitungan. Harusnya kalo jadwal pesawat on time kan aku bisa nyampe bogor lagi jam 12-an. Pasrah deh diprotes sama ortu murid hehhehe,soalna sekarang lagi dibutuhin banget sama muird2, mereka mo pada ulangan and UAN awal Juni ini.

Aku selalu nanya adek sepupu udah nyampe mana. Dia terkesan takut karena ya itu, dia masih far away from jakarta. Jam 2 lewat sms masuk lagi, dia bilang kalo pesawat transit di Surabaya… Ahirnya dia nongol-nongol jam 3.30 PM! Duuh udah serasa jadi rumah sendiri deh tu bandara,karena lama nunggu.

Pesawat yang ditumpangi sepupu terminalnya tetanggaan sama Garuda,jadi satu terminal dengan terminal keberangkatan ke LN gitu. kebetulan banget saat itu banyak yang mau umroh. Duuh ramenya…. Hati bertanya2,kapan ya bisa ke luar negeri kayak orang-orang itu…… Yaaa minimal ke Mekah lah naek haji. Ralat denk, Mekah mah dianggap bukan LN ah! hehehhe

Menilik dari pengalaman, kalo menurut saya, maskapai penerbangan kita masih memprihatinkan! Yaa seperti di atas. Jadwal penerbangan masih suka ngaret. Kan kasian nyang nunggu :D. Selama ini penumpang hanya bisa komplen, ga punya power. Udah gitu teh mereka (airlines) ga ngomong lagi alasan telatnya kenapa.

Jadi kira-kira kekurangan maskapai penerbangan kita:
1. jadwal penerbangan masih suka ngaret
2. penumpang musti kudu deg-degan, takut kehilangan belongings nya yang masuk bagasi (ada beberapa kasus komplen ttg hal ini di surat pembaca sebuah koran)
3. keamanan penumpang masih belum diperhatiin, seperti panjang landasan yang tidak sesuai standar, landasan becek yang membuat pesawat tergelincir….. Eh, kalo nyang ini mah salahnya PT Angkasa Pura dong ya….?
4. ada yang mau nambahin???

Kalo ngeliat keadaan bandara internasional kita… duuh toilletnya aja kotor. Jangankan toilet luar, yang di dalemnya aja (tempat penumpang nunggu pesawat) kotor juga. Apa ga malu tuh kita sama tamu-tamu asing? Padahal kalo ga bisa kayak bandara changinya singapur atawa bandara-bandara di China yang diproyeksikan jadi bandara hub, juga bandara-bandara punya orang laennya, yaaa minimal mbok ya Soetta (Soekarno Hatta) jadi bandara yang bersih gitu loh. Gimana seh!



Posted at 08:46 am by onetea
Make a comment  

Tuesday, May 17, 2005
Kakakku kecelakaan

Kalau kita punya anak, suami kita sedang berada di tempat yang jauh, (mungkin) kita bisa mengetahui apakah dia baik-baik saja atau ada masalah dengan melihat ketenangan dan kerewelan anak.

Kakakku yang tinggal di Jambi saat ini sedang tugas di Bali selama 5 hari. Tadi malam, kakak ipar nelepon kalo kakaku kecelakaan… kakak ipar ngasitau mom kalo seharian memang Hanna (anaknya kakak yang baru datang setelah sekian lama ditunggu) nangis terus, rewel banget deh katanya, padahal biasanya ga gitu. Saat Hanna rewel, si mbak bertanya-tanya ada apa. Dan mungkin teka-teka itu kini terjawab dengan terjadinya musibah yang menimpa papanya Hanna.

Menurut penuturan kakak iparku, kakakku mengalami patah tulang dan luka-luka. Belum diketahui pasti seberapa parah. Mudah-mudahan aja dia gak apa-apa ya, mohon doa dari temen-temen yaa. Kakak ipar dalam perjalanan ke Bali saat ini. Hanna lagi dijemput, dititipin di sini,di rumah neneknya.

Sekedar cerita tentang kakaku ini, mudah-mudahan amalan yang saya ceritakan ini,bisa menolongnya. Aamiin.

Kakaku ini orangnya biasa aja, ga alim, ilmu agamanya ga banyak (apalagi adeknya yang satu ini :D). Tapi ada tindakannya yang bisa dijadikan contoh.

Waktu saya dan orang tua nengok Hanna yang baru lahir waktu itu (bulan januari 2005), kita nih tertegun liat ada tetangga kakak yang datang mau pinjem motor, terus kakak dengan entengnya ngasih kunci tanpa menanyakan mau dipake kemana, sampe jam berapa dipakenya. Saat itu kakak memang lagi ngambil cuti, jadi sang tetangga berpikir pasti motor kakaku lagi nganggur. Taunya tu tetangga pinjemnya ga kira-kira deh, masa pinjem dari pagi jam 8 baru dibalikin sore?? Padahal kakak saya waktu itu walaupun cuti ada keperluan beli ini beli itu,ngurus ini ngurus itu. Jadilah dia pergi naek ojeg ketika harus pergi beli sesuatu untuk keperluan anaknya. Kedua orangtuaku langsung nasihatin dia supaya meminjamkan sesuatu bila kita sama sekali sedang tidak pake, apalagi waktu itu baby-nya baru lahir.

Waktu denger ucapan ortu, kakaku dan kakak ipar hanya diem. Ga ada raut muka kesel atau perkataan yang mengeluhkan perbuatan tetangganya itu. Aku jadi penasaran melihat mereka,lantas nanya ke Si mbak (kaka ipar). Kata si mbak gapapa, malah pernah ada tetangganya yang pinjem motor mereka untuk diojekin, jadi yang pinjem motor “cuman” sampe sore ini sih masih ga seberapa ternyata…Waaah kalo itu aku.. pasti kapok deh minjemin motor ke tetangga yang ga kira-kira itu, maklumlah kalo orang pelit ya kayak gini :D…

Di kota Jambi, walaupun jadi ibukota provinsi Jambi, yang namanya kendaraan umum tuh jarang banget. Jadi minimal punya motor tuh kayaknya udah suatu keharusan deh, kalo ngga bakal berabe ke mana-mana. Kalo naek ojeg pasti mahallah. Untuk menempuh jarak kira-kira10 km,ditempuh dalam waktu 10/15 menitan,karena lalu lintas ga macet kayak di Bogor, kita perlu ngerogoh 10 rebu. Kalo bolak balikya jadi 20 rebu.

Masih tentang kakaku. Di depan kepala aku mendengar percakapan kakaku dengan seorang tetangga yang menelepon, minta kalo malam itu setelah solat isya pengajian dipindah di rumahnya, karena mereka akan mengadakan syukuran. Setelah menutup telepon kakaku langsung mencet beberapa no telp memberitahukan bahwa pengajian pindah ke rumah bapak anu. Bapak ku yang merhatiin kakaku ini bengong, sambil mikir kenapa ga yang punya hajat aja yang nelepon ngundang tetangga yang lain datang ke acara selamatannya? Kok malah kakaku yang sibuk ya? Ooh, ternyata kakaku teh sekretaris ketua RT toh?? Aneh juga ngeliat sekretaris begitu berperan di sebuah RT.

Kaka iparku cerita, pernah ada tetangga datang buat mengambil surat keterangan yang diketik sama kakaku plus udah ditandatangani ketua Rtnya. Lalu si tetangga ngasih ampau ke kakak sebagai rasa terima kasih katanya, tapi kakaku bersikeras nolak sambil berucap “Ngga usah Pak! Ini kan sudah menjadi tugas saya toh?!” Jadilah keduanya pakeukeuh-keukeuh. Yang satu keukeuh pengen ngasih amplop, yang satu keukeuh nolak. Kakaku iparku jadi bete dengerna, lantas berusaha melerai “pertengkaran” itu sambil ngomong “Udah Kang, diambil aja!!” Akhirnya,setelah tetangga pulang, si mbak kena marah kakaku, “Gimana sih ni istri, bukannya ngedukung suami supaya bisa nolak!” “Gara-gara itu, masa aku dibilang istri matre hahhahah” si mbak geli nginget tingkah laku suaminya.

Kakaku iparku juga cerita, kalo kakaku nih suka on time ngantornya. “Pagi-pagi kalo ujan juga tetep maksain berangkat, padahal bos aja datengnya suka telat” kata kakak iparku yang kerjanya sekantor dengan kakaku ini. Masalah cuti istrinya juga sangat ketat. Istrinya diwanti-wanti ga boleh lebih cutinya (hamildan melahirkan) dari waktu yang diberikan.

Melihat itu semua, aku bilang ke babeku kalo kakaku ini sangat pantes jadi pemimpin di kantornya, karena disiplin dan amanah. Tapi babeku berpendapat laen. Kata babe, kakaku ini cocoknya kerja di swasta bukan jadi PNS. “Kalo kerja di swasta, karyawan yang seperti ini pasti akan dapet penghargaan.”

Jadi inget waktu kecil dulu, kakaku ini orangnya memang idealis sejak dari dulu. Teryata sampe gede idealismenya masih ada,semoga tetap ada selamanya. Aamiin. Dan semoga Allah melindungi dan menyelamatkannya melalui semua amal baiknya selama ini. Aamin.

tulisan ini ditulis kemaren, baru diposting hari ini. alhamdulillah, sudah ddiketahui keadaan yang sebenarnya sekarang, kondisinya ga parah.


Posted at 08:08 am by onetea
Comments (3)  

Friday, May 06, 2005
"AAAAH SERASA DI BLA BLA BLA"

Mungkin karena aku nih orang Indonesia asli, jadi yang namanya jam karet bener-bener udah menjadi budayaku (ngaku ni yee). Benernya sih bisa on time, tapi kemacetan lalu lintas di kotaku parah bangeeet. Yah, macet akhirnya suka jadi kambing itamnya orang males kayak diriku ini hihi. Yang kena getahnya gara-gara aku telat ya Lala. Karena aku telat itulah Chieko, temen nihon jin-nya lala, punya banyak waktu nanya kenapa banyak sampah di sekitar kebun raya de el el ke Lala (Lala, rasaiiiin!! :D)

Pas nyampe KRB, aku minta gomen ke Chieko, telat karena macet. Dia cuman jawab “Kasiaaan deh” (wah, tu kata kayaknya ngetob banget di kalangan foreigner yang lagi belajar bahasa ina yah). Sebelum masuk KRB, Chieko nanya tentang tiket masuk KRB, apa foreigner dibedain apa ngga gitu. Soalnya waktu di Yogya, dia kena tiket beda mulu. Eh, ternyata di KRB tketnya sama, buat dewasa 5 rebu.

Sebelum masuk, Chieko minta semacam leaflet-nya KRB. Nah, waktu kita minta ke petugas di deket entrance, ternyata leaflet-nya dijual 5 rebu perak. Kontan aja Chieko balik kanan lalu ngomong pelan-pelan “Di Jepang gratis!” Daku sama Lala nyengir deh :D. Yah, saking deficitnya, KRB ga nyediain biaya promosi kali ya.

Abis poto-potoan di depan monumen Olivia Raffles, alm istri Thomas Stanford Raffles yang jadi gubernur jendral Inggris di Indonesia tahun 1911-1916-an, kita-kita meneruskan journey. Chieko yang memang expressive berseru setengah berteriak kegirangan karena ga nemu sampah di dalam KRB “ AAAH SEPERTI DI YOUROPPA! (eropa)” Aku cuman bisa jawab “Nah, ternyata di Indonesia juga ada yang bersih kan? :D” (bersih tapi harus bayar dulu hihi). Lalu ketika ada belokan, aku melihat ada penunjuk arah menuju Mexican garden. Kuajaklah kedua temanku ini untuk melintasi taman yang aku juga belum pernah ke sana sebelumnya. Pas udah keliatan tamannya, Chieko sekali lagi berseru “AAH SEPERTI DI MEKISKO!” Tapi ketika melihat banyak pohon jenis kaktus yang bergrafiti di taman itu, gantian aku yang berseru “AAAH, SEPERTI DI INDONESIA!” (hehehe, daku emang ngomong kayak gitu La? :D)

Ketika kita nyampe di depan taman luas yang menjadi ciri khas KRB, di mana banyak bunga berwarna warni di sana, Chieko untuk kesekian kalinya berseru “ AAAH BUNGA KANA!” Wah, takjub juga daku dengernya, soalnya aku sama Lala sama sekali ga tau nama bunga itu. Jangankan nama latinnya, nama indonesianya aja kagak tau! Lala yang udah setaun tinggal di negerinya putri seribu sungai (Chieko) cerita, kalo di jp anak-anak mulai dari TK udah pada dikenalkan nama-nama bunga dan tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka. Yah, pengajaran dalam pendidikan kita memang masih belum jauh dari teks book dan hafalan. “AAAH SERASA DI INDONESIA DEEEEH”!!!

jibun de hanashite imasu: "Chieko, kikai ga areba, nihon e ikitain da. sorekara isshoukenmei nihon go o benkyou shitain desu ga ima kara kikai ga nakanaka ikimasen ne, hiks"

Posted at 08:22 am by onetea
Comment (1)  

Monday, April 25, 2005
Oligopoli Membawa Berkah (buat orang iseng :D)

Aji gile! (meminjam istilah pak ARS) Sekarang operator telepon seluler bener-bener lagi perang tarif! Malah yang dahsyat, IM3 Super gratisin sms selama 2 bulan (katanya, tapi trnyata cmn bbrp hari tuh!). Telkomsel ngasih tarif murah (flat pula) buat nelepon dari jam 11 pm sampe 7 am,hanya 300 per menit!

Alhasil, daku yang memang sudah memiliki bakat iseng dari dulu, langsung deh beli kedua no operator di atas. Dengan hanya mengeluarkan 11 rebu, aku bisa sms semauku, dan punya pulsa 15 rebu. Yaa jadi asik aja bisa ngerjain temen-temen… hahhaha,bener-bener ga ada kerjaan yaaaa. Tapi, karena takut kualat, akhirnya ngaku juga sih siapa diriku ini kepada para target :D. Ngaku karena ga tega ajah sih benernya mah, karena udah buat mereka penasaran,kege-eran punya fans hehhehe dan ga tega ama pulsa mereka tentunya. Tapi ga semua temen kukerjain loh…,takut kualat ah !:D

Lucu juga, jadi tau, temen yang biasanya suka susah marah ternyata pas kukerjain bisa marah juga hehehhe. Malah aku baru tau, kalo Bu Awi teh ternyata bahasa sundanya kereeen pisan, pake bahasa Sunda nu lemes. Tapi pas kubilang “Aji gile,bahasa sundanya keren be’eng,” akhirnya keluar juga murkanya Bu Awi hahhahah. Sangkain dia, daku cowo kali. Sampe tadi pagi baru kuberi sinyal kalo dia sedang dijailin sama orang iseng bernama Iswanti :D. Oiya,Bu Mai lucu-lucu banget deh ngejawab sms jailku, bisa-an pisan,ada bakat tuh ikut srimulat hehehhe (ampun Bu Mai… :D) Akhirnya kedua Ibu guru ini ngaku kalo mereka terperdaya juga sama daku hehehhe. Mereka bilang aku jahat bangeeet. Mereka lupa, padahal dulu kita bertiga pernah saling bilang, kalo ketemen tuh harus jahat (bukan ke teman yang selain kita betiga gitu jahatnya).

Tapi ga semata aku cuman menyalurkan bakat isengku aja looh. Dengan gratisnya sms, aku juga jadi bisa ngehubungin temen-temen yang ga pernah kuhubungi. Intinya, jadi bisa silaturahim laah.

Aku baru tau,seorang temen yang kukenal waktu tes beasiswa teacher training,asal purwokerto, ternyata ga ngambil kesempatan training satu setengah taun di jepang,karena tidak ada ijin dari suami dan ibunya. Dulu waktu kutanya bagaimnaa dengan keluarga jika lolos tes, si mbak hanya bilang “Itu sih urusan nanti.”

Orang tua muridku juga jadi nelepon ke rumah, gara-gara sms gratis. Kangen katanya udah lama ga silaturahim.

Mas Agus,kakak angkatku nemu di internet, setelah ku sms pagi-pagi karena aku nanyain tentang gambar vektor, tiba-tiba aja siangnya jam 2.30 pm nelepon ngasitau kalo dia sama anak dan istrinya udha nyampe taman topi mau ke rumahku. Alhamdulillah aja aku ga kemana-mana kemaren, jadi akhirnya kemaren sore mas agus dan mbak ayu nyampe juga di gubukku….

Intinya,dengan sms gratis,aku jadi beeebas ber-sms ria. Dengan adanya persaingan antar operator, yang paling diuntungkan jelas konsumen dong. Bisa jadi tahun-tahun kedepan malah nelepon anytime lewat HP bisa jadi 300 perak semenitnya. Klo udah gitu, pasti daku jadi sering nelepon deh, lalu kepalaku bakal pusing mulu terkena radiasi sinyal HP. Maklumnya Hpnya masih pake yang lawas sih.

Beginilah enaknya kalo tidak ada monopoli. Semua bisa bersaing untuk merebut hati konsumen meninggalkan nomor kompetitornya. Jadi kita serukan semoga Telkom dan PLN segera memiliki pesaing,supaya tarif nelepon PSTN dan listrik bisa murah, dan…..ga rugi mulu…..*udah monopoli kok rugi yah???*

Posted at 05:29 pm by onetea
Comments (2)  

Monday, March 28, 2005
Mengontrol Tayangan untuk Anak

Di kompas saya pernah baca ada tulisan yang membahas soal tayangan
buat anak berdasarkan seminar yang bertajuk "Pengaruh TV terhadap
Perilaku ANak" sebagai nara sumber psikolog anak Mayke S Tedjasaputra.

menurut beliau, tidak selamanya TV berdampak negatif. keunggulan TV
adalah stimulus yang lebih intens dan melibatkan beberapa indera, hal
ini dapat merangsang anak lebih kreatif. tapi bila anak sudah
berlebihan durasi menontonnya maka perlu diwaspadai.

menurutnya, sebaiknya anak usia 0-3 tahun sama sekali tidak
menyaksikan TV karena dapet mengganggu konsentrasi. juga akibat
kebanyakan nonton dapat mengurangi aktifitas fisik anak, interaksi
sosialnya pun terhambat.

solusi yang ditawarkan:
- ortu perlu sering menghabiskan waktu dengan anak, misalnya bermain
atau membacakan cerita.
- jika menonton sering didampingi utk menerangkan isi positip dan
negatipnya, juga anak perlu diyakinkan antara khayalan dan kenyataan.

sebagai tambahan berdasarkan pengalaman saya mengajar murid2 saya. ada
beberapa murid yang ortunya bekerja semua. cara ortu yang bekerja utk
tetap memonitor anak2nya adalah dengan melatih asisten ortu di rumah,
seperti memberitahu mereka tontonan yang pantas utk anak2 mereka
tonton. meminta para asisten utk membacakan buku cerita anak sebelum
anak2nya tidur siang, dll.

walau bagaimana pun, pendidikan anak adalah tanggung jawab ortu,
sebaiknya ortu tidak melepas begitu saja pengasuhan anak dan
pendidikannya kepada orang lain. ada beberapa murid yang suka nonton
sinetron atau lagu2 dangdut, dsb karena para asisten suka nonton acara
tsb.

o iya, ada klien dari psikolog yang saya sebut di atas. kliennya
ini udah remaja, tapi dia berusaha bunuh diri ketika berselisih denga
ortunya. dia bilang bunuh diri tuh gampang, tinggal loncat dari
jendela atau motong urat nadi dengan silet. dia tau semua itu dari
sinetron.

Posted at 12:08 pm by onetea
Make a comment  

Next Page



One Moment in Time


Each day I live,
I want to be,
A day to give,
The best of me.

I'm only one,
But not alone,
My finest day,
Is yet unknown.

I broke my heart,
Fought every gain,
To taste the sweet,
I face the pain.

I rise and fall,
Yet through it all,
This much remains.

I want one moment in time,
When I'm more than I thought I could be.
Then all of my dreams are a heartbeat away,
And the answers are all up to me.

Give me one moment in time,
When I'm racing with destiny,
Then in that one moment of time,
I will feel,
I will feel eternity.

I've lived to be,
The very best.
I want it all,
No time for less.

I've laid the plans,
Now lay the chance,
Here in my hands.

Give me one moment in time,
When I'm more than I thought I could be.
When all of my dreams are a heartbeat away,
And the answers are all up to me.

Give me one moment in time,
When I'm racing with destiny.
Then in that one moment of time,
I will feel,
I will feel eternity.

You're a winner for a lifetime,
If you seize that one moment in time,
Make it shine.

Give me one moment in time,
When I'm more than I thought I could be,
When all of my dreams are a heartbeat away,
And the answers are all up to me.

Give me one moment in time,
When I'm racing with destiny.
Then in that one moment of time,
I will be,
I will be,

I will be free.
I will be free

   

<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed